KUPANG, FORTITERNEWS.COM– Tradisi adat menjadi pembuka pertemuan Pemangku Masyarakat Adat, Budaya, dan Peradaban “MEO NAEK TEFLOPO NOK IN MEONBIN AN BI PAH TIMOR”, Yoseph Ariyanto Ludoni Teflopo, dengan Konsul Republik Demokratik Timor-Leste di Kupang, Espedito Da Conceição Ribeiro, Senin (19/10/2026).
Pertemuan itu menegaskan pentingnya peran budaya dan masyarakat adat dalam merawat persaudaraan antara warga di kedua negara.
Sebelum audiensi berlangsung, kedua pihak mengikuti seremoni adat berupa penyerahan okomama oleh Pemangku Adat, Budaya dan Peradaban MEO NAEK TEFLOPO NOK IN MEONBIN AN BI PAH TIMOR yang memimpin 122 suku dalam satu kesatuan masyarakat adat di Timor.
Prosesi dilanjutkan dengan penyelubungan kain adat Timor kepada Espedito oleh Yoseph Ariyanto Ludoni Teflopo sebagai simbol kehangatan, kesejukan dan kasih sayang dalam persaudaraan Timor.
Yoseph hadir didampingi sesepuh masyarakat adat Sabu-Raijua, Frits Djubida, dan sesepuh masyarakat adat Ray Malaka, Theo Seran. Mereka diterima langsung oleh Espedito bersama sekretaris dan staf administrasi Konsulat Republik Demokratik Timor-Leste di Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Pertemuan tersebut berlangsung menjelang pelaksanaan Festival Lintas Batas 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 23–26 Oktober 2026 di Pantai Kom, Kabupaten Lautém, Timor-Leste. Festival itu mengusung agenda pertukaran budaya untuk mempererat rekonsiliasi antara masyarakat dan Pemerintah Republik Demokratik Timor-Leste.
Dalam audiensi itu, Yoseph menyampaikan permohonan maaf karena tidak dapat memenuhi undangan festival tersebut. Ia menjelaskan bahwa pada waktu yang bersamaan dirinya harus menjalankan ritual khusus yang tidak dapat ditinggalkan.
Permohonan maaf tersebut sebelumnya dituangkan dalam surat tertanggal 16 Oktober 2026.

Surat itu merujuk pada undangan panitia penyelenggara Nomor 03/SC/FF/IX/2026 serta surat pengantar Konsulat Republik Demokratik Timor-Leste di Kupang Nomor 55/CRDTL-KPG/OV/X/2026 tertanggal 12 Oktober 2026.
Dalam suratnya, Yoseph menyampaikan terima kasih atas undangan dan kepercayaan yang diberikan kepada lembaga pemangku masyarakat adat, budaya, dan peradaban yang dipimpinnya. Menurut dia, undangan tersebut merupakan bentuk penghargaan terhadap peran masyarakat adat dalam menjaga hubungan persaudaraan, memperkuat pertukaran budaya, dan merawat perdamaian lintas batas di Pulau Timor.
Ia juga berharap ketidakhadirannya tidak mengurangi makna penghormatan maupun komitmen untuk terus mendukung kegiatan yang mempererat hubungan masyarakat adat Indonesia dan Timor-Leste.
Adat sebagai jembatan persaudaraan
Hubungan masyarakat di Pulau Timor tidak hanya terbentuk oleh batas wilayah negara. Ikatan sejarah, kekerabatan, adat istiadat, dan kebudayaan telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di kedua sisi perbatasan.
Dalam konteks itu, tradisi okomama dan pemberian kain adat memiliki makna lebih luas daripada sekadar seremoni. Keduanya menjadi sarana menyampaikan penghormatan sekaligus memperkuat hubungan sosial yang diwariskan antargenerasi.
Masyarakat adat juga memiliki posisi strategis dalam menjaga hubungan tersebut. Melalui tradisi, ritual, dan pertemuan antarpemangku adat, nilai persaudaraan dapat terus dipelihara di tengah perubahan sosial dan politik.
Potensi itu sekaligus membuka ruang bagi pengembangan pariwisata berbasis budaya. Tradisi penyambutan, kain tenun, dan kekayaan ritual masyarakat Timor dapat menjadi bagian dari daya tarik wisata yang memperkenalkan identitas lokal kepada pengunjung.
Namun, pengembangan wisata budaya perlu tetap memperhatikan martabat masyarakat adat dan nilai yang melekat pada setiap tradisi. Ritual yang bersifat sakral tidak semestinya diperlakukan hanya sebagai tontonan, melainkan dihormati sebagai bagian dari sistem kepercayaan dan kehidupan komunitas.
Yoseph berharap hubungan masyarakat adat, budaya, dan peradaban di Indonesia dan Timor-Leste terus diperkuat melalui dialog, pertukaran budaya, serta berbagai inisiatif bersama yang berlandaskan persaudaraan dan perdamaian.
Pertemuan di Kupang itu memperlihatkan bahwa upaya merawat hubungan lintas batas tidak selalu harus dimulai dari agenda formal.
Penghormatan terhadap adat dan kesediaan menjaga komunikasi antarmasyarakat juga menjadi bagian penting dalam memelihara ikatan sejarah kedua bangsa.
Konsul Berharap Festival Digelar Setiap Tahun
Menanggapi permohonan maaf tersebut, Konsul Republik Demokratik Timor-Leste di Kupang, Espedito Da Conceição Ribeiro, menyampaikan terima kasih atas niat baik dan sikap Yoseph Ariyanto Ludoni Teflopo yang telah datang secara langsung untuk menjelaskan alasan ketidakhadirannya.
Espedito mengaku sebenarnya sangat berharap Yoseph dapat menghadiri Festival Lintas Batas 2026.
Menurut dia, kehadiran pemangku adat, budaya, dan peradaban Timor akan menjadi bagian penting dalam kegiatan pertukaran budaya tersebut.
“Saya sebenarnya sangat berharap Bapak Raja bisa hadir mengikuti festival tersebut. Namun, bagaimana lagi, kegiatan itu bertepatan dengan seremoni atau ritual yang berkaitan dengan ritual para raja di Timor Barat,” ujar Espedito.
Ia memahami bahwa kegiatan adat memiliki waktu dan ketentuan tersendiri yang harus dihormati. Karena itu, ketidakhadiran Yoseph diterima dengan mempertimbangkan alasan yang telah disampaikan.
Espedito juga berjanji akan meneruskan permohonan maaf tersebut kepada panitia penyelenggara dan pihak terkait yang menangani urusan administrasi kebudayaan di Timor-Leste.
Ia mengatakan akan menyampaikan hal itu kepada Sekretaris Negara Urusan Seni dan Budaya Timor-Leste agar pihak penyelenggara memperoleh penjelasan langsung mengenai alasan ketidakhadiran pemangku adat Timor Barat tersebut.
Melalui kegiatan pertukaran budaya, masyarakat di Indonesia dan Timor-Leste diharapkan memiliki ruang untuk saling mengenal tradisi, memperkuat komunikasi, dan menjaga hubungan persaudaraan.
Espedito menegaskan akan menyampaikan harapan tersebut kepada Sekretaris Negara Urusan Seni dan Budaya Timor-Leste.
Pertemuan di Kupang itu pun menjadi kesempatan bagi kedua pihak untuk menjaga komunikasi di tengah persiapan Festival Lintas Batas 2026.
Di satu sisi, Yoseph menyampaikan penghormatan kepada penyelenggara melalui permohonan maaf secara langsung. Di sisi lain, pihak konsulat berharap kerja sama budaya lintas batas dapat terus berlanjut melalui penyelenggaraan festival pada tahun-tahun mendatang.
//Hermen Jawa