KUPANG, FORTITERNEWS.COM— Lasarus Laiskodat Memorial Cup III (LLMC III) tidak lagi sekadar menjadi ajang kompetisi sepak bola. Pada penyelenggaraan tahun ini, kejuaraan tersebut memperluas cakupan dengan menghadirkan cabang olahraga Shorinji Kempo dan tinju. Perluasan ini sekaligus membuka ruang bagi atlet Nusa Tenggara Timur untuk menguji kemampuan dan mempersiapkan diri menghadapi kompetisi yang lebih tinggi.

Kejuaraan yang dijadwalkan berlangsung pada 2–6 November 2026 itu melibatkan 22 kabupaten dan kota di NTT. Khusus untuk cabang Shorinji Kempo, penyelenggara menyediakan total hadiah sebesar Rp 75 juta.

Bagi Ketua Umum Pengurus Provinsi Persaudaraan Shorinji Kempo Indonesia (PERKEMI) NTT, Julie Sutrisno Laiskodat, kehadiran Kempo dalam LLMC III harus dimanfaatkan lebih jauh daripada sekadar perebutan gelar juara. Kompetisi tersebut diharapkan menjadi bagian dari proses pembinaan atlet menuju kejuaraan internasional di Nagoya, Jepang, serta Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.

Julie, yang juga anggota DPR RI dari Fraksi Partai Nasdem, menilai kompetisi antardaerah penting untuk mengukur perkembangan kemampuan atlet, mengevaluasi hasil latihan, dan memetakan kesiapan menghadapi persaingan yang lebih ketat.

“Kami ingin LLMC III menjadi lebih dari sekadar ajang pertandingan. Ini harus menjadi kesempatan bagi para atlet untuk menunjukkan kemampuan terbaik, mengukur hasil pembinaan, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan yang lebih besar, termasuk kejuaraan internasional di Nagoya dan PON 2028,” kata Julie.

Menurut dia, prestasi olahraga tidak dapat dibangun hanya dengan mengandalkan bakat atau kemenangan dalam satu kejuaraan. Atlet membutuhkan kompetisi yang teratur, latihan yang terukur, evaluasi berkelanjutan, serta dukungan organisasi yang mampu menjaga kesinambungan pembinaan.

Karena itu, hasil pertandingan LLMC III diharapkan menjadi salah satu bahan evaluasi bagi pengurus dan pelatih untuk mengidentifikasi kelebihan maupun kekurangan atlet. Aspek teknik, strategi, konsistensi, dan kesiapan mental perlu menjadi perhatian dalam menentukan program latihan berikutnya.

Pembinaan tidak berhenti di arena pertandingan

Julie juga mendorong penguatan program pemusatan latihan atau training center (TC) jangka panjang untuk mempersiapkan atlet menuju agenda internasional dan PON 2028.

Menurut dia, persiapan menuju kompetisi besar membutuhkan perencanaan yang jelas. Atlet yang menunjukkan potensi melalui kompetisi perlu mendapat pendampingan dan program latihan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

“Persiapan menuju Nagoya dan PON 2028 membutuhkan proses yang terencana. Atlet harus mendapatkan kesempatan berkompetisi, kemudian menjalani evaluasi dan latihan secara berkelanjutan. Karena itu, kami berharap seluruh jajaran PERKEMI dan para pelatih dapat membangun kerja sama yang kuat dalam menyiapkan atlet,” ujarnya.

Pembinaan jangka panjang itu, lanjut Julie, tidak bisa hanya dibebankan kepada pengurus provinsi. Pengurus cabang dan pengurus kabupaten atau kota bersama pelatih memiliki peran penting untuk menjaga rutinitas latihan, menemukan bibit atlet, serta memastikan atlet daerah memperoleh kesempatan berkembang.

Dukungan pemerintah daerah, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), dan pemangku kepentingan olahraga juga diperlukan agar proses pembinaan tidak terputus setelah sebuah kejuaraan selesai.

Dengan demikian, partisipasi daerah dalam LLMC III diharapkan tidak berhenti pada kehadiran atlet selama pertandingan. Keikutsertaan tersebut perlu dilanjutkan dengan pembinaan yang konsisten di daerah masing-masing.

Perluasan cabang olahraga

Penyelenggaraan LLMC III membawa perubahan dibandingkan dua edisi sebelumnya. LLMC I dan LLMC II hanya mempertandingkan sepak bola, sedangkan edisi ketiga ini memperluas kompetisi dengan memasukkan Shorinji Kempo dan tinju.

Perubahan itu membuka kesempatan bagi atlet dari cabang olahraga lain untuk tampil dalam kejuaraan yang melibatkan peserta dari berbagai wilayah NTT. Bagi para kenshi atau praktisi Shorinji Kempo, kompetisi ini menjadi ruang untuk menguji hasil latihan sekaligus memperoleh pengalaman bertanding.

Keterlibatan 22 kabupaten dan kota juga berpotensi memperluas persaingan antardaerah. Namun, manfaat kompetisi bagi peningkatan prestasi akan sangat ditentukan oleh tindak lanjut setelah pertandingan, termasuk evaluasi hasil, kesinambungan latihan, dan kesiapan atlet menghadapi kejuaraan berikutnya.

Dalam pembinaan olahraga, gelar juara bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Kemampuan atlet menerapkan teknik dan strategi, menjaga konsistensi selama pertandingan, serta memperbaiki kelemahan setelah menghadapi lawan juga menjadi bagian penting dari proses peningkatan prestasi.

Karena itu, LLMC III diharapkan tidak hanya menghasilkan pemenang, tetapi juga menyediakan gambaran mengenai perkembangan kualitas atlet Kempo di NTT.

Menatap Nagoya dan PON 2028

Rangkaian LLMC III dijadwalkan berlangsung pada 2–6 November 2026. Pertandingan penyisihan digelar pada 2–4 November 2026 di GOR Flobamora. Sementara itu, pertandingan final untuk nomor-nomor pilihan yang melibatkan atlet terbaik dijadwalkan berlangsung pada 6 November 2026 di Semau.

Bagi PERKEMI NTT, rangkaian pertandingan tersebut menjadi salah satu kesempatan untuk menilai kesiapan atlet sekaligus memperkuat arah pembinaan menuju agenda olahraga berikutnya.

Target menuju Nagoya dan PON 2028 menuntut persiapan yang tidak singkat. Karena itu, kompetisi daerah perlu ditempatkan sebagai bagian dari tahapan pembinaan yang terukur, bukan sebagai kegiatan yang berdiri sendiri.

Julie berharap dukungan KONI kabupaten dan kota, para bupati dan wali kota, pengurus PERKEMI, pelatih, serta seluruh pemangku kepentingan terus diperkuat agar atlet NTT memperoleh kesempatan berlatih dan berkompetisi secara berkelanjutan.

“Kami berharap dukungan semua pihak terus berlanjut. Membangun prestasi membutuhkan kerja bersama, mulai dari pembinaan di daerah, kompetisi yang teratur, hingga persiapan atlet menghadapi kejuaraan yang lebih tinggi,” katanya.

Perluasan LLMC III dengan menghadirkan Kempo dan tinju menjadi langkah untuk memperbesar ruang kompetisi olahraga di NTT. Tantangan berikutnya adalah memastikan momentum tersebut berlanjut menjadi program pembinaan yang konsisten sehingga target menuju Nagoya dan PON 2028 tidak berhenti sebagai harapan, tetapi diterjemahkan ke dalam persiapan atlet yang terukur dan berkesinambungan.

//Hermen Jawa

By admin