JAKARTA, FORTITERNEWS.COM— Sembilan finalis Lomba Pidato AHY Muda 2026 mengunjungi Kantor Kementerian Ekonomi Kreatif di Lantai 33 Menara Thamrin Nine, Jakarta, Jumat (18/9/2026). Para pelajar tersebut didampingi guru pendamping serta anggota Fraksi Partai Demokrat DPRD yang membimbing mereka selama mengikuti rangkaian perlombaan.

Dalam kunjungan itu, para finalis bertemu dengan Menteri Ekonomi Kreatif, Tengku Riefky Harsya. Pertemuan tidak sekadar menjadi agenda menjelang pengumuman pemenang Lomba Pidato AHY Muda, tetapi juga menjadi ruang bagi para peserta untuk melihat lebih dekat bagaimana kreativitas, kemampuan komunikasi, dan minat generasi muda dapat berkembang menjadi bagian dari industri ekonomi kreatif.
Lomba Pidato AHY Muda merupakan bagian dari rangkaian Lomba Rakyat Partai Demokrat 2026. Kompetisi tersebut mendapat respons luas dari kalangan pelajar di berbagai daerah.
Sebanyak 1.317 peserta tercatat mendaftar. Proses seleksi dilakukan secara berjenjang. Setiap DPD Partai Demokrat melakukan penilaian terhadap peserta di daerah masing-masing untuk menentukan dua peserta yang dikirim ke tingkat berikutnya.
Dari 31 provinsi, terkumpul 62 peserta. Selain itu, terdapat peserta yang masuk melalui penilaian dari unsur Fraksi Partai Demokrat DPR RI sehingga jumlah peserta yang mengikuti tahapan penilaian lanjutan mencapai sekitar 70 orang.
Dari proses tersebut, akhirnya terpilih sembilan finalis yang kemudian menjalani penilaian akhir oleh tim juri DPP Partai Demokrat.
Kesembilan finalis inilah yang berada di Jakarta untuk mengikuti rangkaian akhir lomba sekaligus menghadiri pengumuman pemenang yang dijadwalkan berlangsung Sabtu (19/9/2026) di Auditorium Yudhoyono, DPP Partai Demokrat, Jakarta.
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono dijadwalkan menyerahkan trofi kepada para pemenang.

Di hadapan para finalis, Tengku Riefky menekankan pentingnya kemampuan berbicara dan menyampaikan gagasan secara baik. Menurut dia, kemampuan berpidato membutuhkan persiapan, bukan sekadar keberanian tampil di depan publik.
“Saya merasa bangga karena minatnya begitu luas. Saat ini cara berpidato mesti tampil baik. Tentu memerlukan persiapan,” kata Tengku Riefky dalam pertemuan tersebut.
Ia mengatakan, persiapan yang tidak matang dapat terlihat dari cara seseorang tampil dan menyampaikan pesan. Karena itu, kemampuan komunikasi menjadi keterampilan yang relevan bukan hanya dalam kegiatan politik, tetapi juga dalam berbagai bidang profesi.
Menurut dia, kebutuhan terhadap kemampuan berbicara dan menyampaikan pesan bahkan telah berkembang menjadi bagian dari industri ekonomi kreatif.
Di lingkungan Kementerian Ekonomi Kreatif, misalnya, terdapat berbagai bidang pekerjaan yang berkaitan dengan kemampuan suara dan komunikasi, mulai dari voice over, penyiaran radio, presenter, hingga pengisian suara untuk animasi.
“Proses dari 1.317 menjadi sembilan ini bukan tidak ada manfaatnya. Ini menjadi bagian mula,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi penting bagi para finalis karena kompetisi pidato yang mereka jalani tidak berhenti pada persoalan siapa yang menjadi juara. Pengalaman melewati seleksi dari tingkat daerah hingga tingkat nasional memberi mereka pengalaman tampil, menyusun gagasan, mengolah pesan, dan berkomunikasi di hadapan publik.
Ketika Hobi Berubah Menjadi Profesi
Tengku Riefky juga mengaitkan kreativitas anak muda dengan perubahan lanskap dunia kerja. Ia mengajak para peserta melihat bahwa minat dan hobi tidak selalu harus ditempatkan sebagai kegiatan di luar pekerjaan.
Menurut dia, perkembangan ekonomi kreatif membuka ruang agar seseorang dapat membangun karier dari bidang yang memang menjadi minat dan keahliannya.
“Kalau dulu, kalau menjadi ASN tentu pasti penghasilannya tetap. Itu zaman dulu. Kalau sekarang, karier dan kerja kita sesuai dengan hobi kita,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perkembangan teknologi dan inovasi membuat berbagai bidang kreativitas dapat dikembangkan menjadi profesi yang memiliki nilai ekonomi.
Hobi dan passion, kata dia, dapat dikembangkan menjadi profesi apabila mendapatkan sentuhan inovasi, kreativitas, dan teknologi.
Dalam konteks itulah, keberadaan Kementerian Ekonomi Kreatif diarahkan untuk mendorong agar potensi kreativitas masyarakat dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang mampu menghasilkan pendapatan dan membuka lapangan kerja.
Bidang ekonomi kreatif sendiri mencakup beragam subsektor. Di antaranya kreativitas berbasis budaya, desain, otomotif, media, film, serta berbagai bentuk produksi kreatif lainnya.
Perubahan itu, menurut Tengku Riefky, turut mengubah cara masyarakat memandang profesi di bidang kebudayaan dan kreativitas.
Jika sebelumnya pelaku seni dan budaya lebih sering dipandang semata-mata sebagai seniman, perkembangan ekonomi kreatif memungkinkan mereka berkembang menjadi pelaku usaha di bidang budaya.
“Kalau dulu dicap sebagai seniman, sekarang menjadi pengusaha budaya,” katanya.
Generasi Muda di Jantung Ekonomi Kreatif
Tengku Riefky juga menyoroti besarnya peran generasi muda dalam perkembangan ekonomi kreatif nasional. Ia menyebut sebagian besar tenaga kerja di sektor ekonomi kreatif berasal dari kelompok generasi Z dan milenial.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan ekonomi kreatif memiliki hubungan erat dengan masa depan generasi muda.
Potensi tersebut sekaligus membuka peluang bagi daerah. Kreativitas anak muda yang bertumpu pada budaya lokal, desain, media, teknologi, maupun produk kreatif lainnya dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi daerah.
Karena itu, kompetisi seperti Lomba Pidato AHY Muda dapat dilihat dalam konteks yang lebih luas. Kemampuan menyampaikan gagasan, keberanian tampil, kreativitas, serta kemampuan memanfaatkan teknologi merupakan modal yang semakin penting bagi generasi muda.
Bagi sembilan finalis yang telah melewati proses panjang dari ribuan pendaftar, kunjungan ke Kementerian Ekonomi Kreatif menjadi pengalaman tersendiri sebelum mereka mengikuti babak akhir kompetisi.
Mereka tidak hanya datang untuk menunggu pengumuman siapa yang memperoleh trofi. Mereka juga diperkenalkan pada gagasan bahwa kemampuan yang mereka bangun melalui sebuah kompetisi pidato dapat memiliki relevansi lebih jauh dengan dunia profesi dan ekonomi kreatif.
Pada Sabtu (19/9/2026), kesembilan finalis akan kembali berkumpul di Auditorium Yudhoyono, DPP Partai Demokrat. Di tempat itu, hasil akhir penilaian tim juri akan diumumkan dan trofi diserahkan langsung oleh Agus Harimurti Yudhoyono.
Perjalanan dari 1.317 pendaftar menjadi sembilan finalis dengan demikian bukan hanya menjadi catatan kompetisi. Bagi para peserta, proses tersebut sekaligus menjadi pengalaman awal untuk menguji kemampuan berbicara, mengolah gagasan, dan tampil di ruang publik—keterampilan yang semakin dibutuhkan di tengah berkembangnya ekonomi kreatif dan perubahan dunia kerja.
//Hermen Jawa