oppo_34

Bagi saya, Iban Medah  merupakan bagian dari sejarah panjang politik Nusa Tenggara Timur. Kariernya memperlihatkan bagaimana seorang pamong praja dapat masuk ke dunia politik, kemudian menjadi legislator, kepala daerah, pimpinan partai, Ketua DPRD NTT, hingga akhirnya menjadi wakil daerah di tingkat nasional”

Hermen Jawa- Jurnalis, tinggal di Kupang

Siang itu, Rabu (12/8/2026), saya bersama seorang sahabat menyambangi kediaman salah satu tokoh politik senior Nusa Tenggara Timur, Drs. Ibrahim Agustinus Medah. Tokoh yang lebih akrab disapa Pak Iban Medah itu kami temui di kediamannya di Jalan Etari, Kupang.

Ada perasaan bangga tersendiri ketika bisa berjumpa dan berbincang dengan seorang tokoh yang perjalanan hidupnya begitu panjang dalam pemerintahan dan politik NTT.

Apalagi, bagi saya, Pak Iban tidak hanya  seseorang yang pernah memegang jabatan politik. Ia adalah salah satu saksi sekaligus pelaku dari perjalanan panjang politik Nusa Tenggara Timur.

Kami diterima dengan suasana yang begitu tenang dan bersahaja. Dengan sapaan yang lembut, beliau mempersilakan kami masuk dan duduk di ruang tamu. Tidak ada kesan berjarak. Tidak pula terlihat suasana formal seperti layaknya pertemuan dengan seorang mantan pejabat. Yang terasa justru suasana kekeluargaan dan keakraban.

Soal apa maksud kami bertiga, saya, sahabat saya, dan Pak Iban biarlah menjadi rahasia kami bertiga..hehehehe.

Ada alasan tertentu yang membawa kami datang, tetapi tidak semua cerita harus dibuka kepada publik. Anggap saja, ada sedikit rahasia di balik perjumpaan siang itu.

Namun, terlepas dari rahasia kecil tersebut, perjumpaan itu kembali mengingatkan saya pada sosok Iban Medah dan perjalanan panjangnya di panggung pemerintahan serta politik NTT.

Tidak banyak tokoh politik di Nusa Tenggara Timur yang memiliki perjalanan sepanjang dan selengkap Drs. Ibrahim Agustinus Medah. Sebagian besar perjalanan hidupnya bersentuhan dengan birokrasi pemerintahan dan dunia politik. Dari seorang pamong praja di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kupang, ia kemudian masuk ke dunia politik praktis dan menapaki berbagai jenjang kekuasaan, baik di tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional.

Jika perjalanan itu dirunut, kisah politik Iban Medah memang cukup panjang.

Sebelum dikenal sebagai politisi senior, ia terlebih dahulu menjadi pamong praja di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kupang. Dari dunia birokrasi itulah ia mengenal secara dekat bagaimana pemerintahan bekerja, bagaimana pelayanan publik dijalankan, serta bagaimana persoalan masyarakat dihadapi dari dalam sistem pemerintahan.

oppo_34

Pengalaman sebagai birokrat kemudian menjadi bekal ketika ia memutuskan memasuki dunia politik.

Iban Medah bergabung dengan Partai Golkar. Karier politiknya berkembang dengan cepat. Ia dipercaya menjadi Ketua DPRD Kabupaten Kupang, sebuah posisi penting yang menempatkannya dalam pusaran pengambilan keputusan politik di daerah.

Dari lembaga legislatif, perjalanan politiknya kemudian berlanjut ke eksekutif. Ia dipercaya menjadi Bupati Kupang selama dua periode. Posisi tersebut memberinya kesempatan untuk tidak hanya berbicara mengenai pemerintahan dari kursi legislatif, tetapi juga memimpin langsung roda pemerintahan dan pembangunan Kabupaten Kupang.

Di sinilah pengalaman Iban Medah menjadi semakin lengkap. Ia pernah berada di dalam birokrasi sebagai pamong praja, kemudian menjadi legislator, dan selanjutnya menjadi kepala daerah. Tiga ruang pengalaman tersebut tentu memberikan perspektif yang berbeda mengenai bagaimana pemerintahan dan politik bekerja.

Setelah menyelesaikan masa pengabdiannya sebagai Bupati Kupang, Iban Medah tetap menjadi bagian penting dari dinamika politik NTT. Ia dipercaya memimpin DPD I Partai Golkar NTT. Sebagai pimpinan partai politik, ia kembali berada di tengah dinamika politik provinsi, mengelola organisasi partai sekaligus menghadapi berbagai perubahan peta politik di NTT.

Pengalamannya di dunia politik kemudian membawanya kembali ke lembaga legislatif. Iban Medah dipercaya menduduki posisi Ketua DPRD NTT.

Jabatan tersebut semakin memperlihatkan betapa panjang perjalanan politik yang telah dilaluinya. Dari Ketua DPRD Kabupaten Kupang, kemudian Bupati Kupang dua periode, memimpin Partai Golkar NTT, hingga menjadi Ketua DPRD NTT.

Belum berhenti sampai di situ, perjalanan politik Iban Medah akhirnya mencapai tingkat nasional ketika ia terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, mewakili masyarakat Nusa Tenggara Timur.

Dengan demikian, hampir seluruh jenjang pemerintahan dan politik daerah pernah dilaluinya. Ia pernah menjadi pamong praja, anggota dan pimpinan lembaga legislatif di tingkat kabupaten, kepala daerah, pimpinan partai politik, pimpinan DPRD provinsi, hingga akhirnya menjadi senator yang membawa aspirasi NTT ke tingkat nasional.

Karena itu, ketika berbicara mengenai perjalanan politik NTT, nama Iban Medah sulit untuk dilepaskan begitu saja. Ia bukan hanya pernah menduduki sejumlah jabatan penting, tetapi juga melewati berbagai fase perubahan politik daerah.

Ia menyaksikan bagaimana NTT berubah dari satu periode pemerintahan ke periode berikutnya. Ia mengalami sendiri perubahan peta politik, pergantian kepemimpinan, dinamika partai, serta tarik-menarik kepentingan antara pemerintah, legislatif, partai politik, dan masyarakat.

Itulah yang membuat perjalanan Iban Medah menarik untuk dicermati.

Bagi saya, Iban Medah  merupakan bagian dari sejarah panjang politik Nusa Tenggara Timur. Kariernya memperlihatkan bagaimana seorang pamong praja dapat masuk ke dunia politik, kemudian menjadi legislator, kepala daerah, pimpinan partai, Ketua DPRD NTT, hingga akhirnya menjadi wakil daerah di tingkat nasional.

 Perjalanan tersebut menunjukkan sebuah pengabdian yang berlangsung lintas zaman.

Dari kantor pemerintahan Kabupaten Kupang, ruang sidang DPRD Kabupaten Kupang, rumah jabatan bupati, kantor Partai Golkar NTT, gedung DPRD Provinsi NTT, hingga Senayan, jejak perjalanan Iban Medah seolah menggambarkan satu garis panjang pengabdian kepada daerah.

Dan siang itu, ketika saya duduk berhadapan dengannya di ruang tamu kediamannya di Jalan Etari, saya tidak hanya melihat seorang mantan pejabat atau politisi senior.

Saya melihat seorang tokoh yang telah melewati begitu banyak episode dalam perjalanan politik NTT.

Iban Medah adalah potret seorang pamong praja yang kemudian tumbuh menjadi politisi, mengakar dalam politik daerah, memimpin pemerintahan, memimpin partai dan lembaga legislatif, hingga akhirnya membawa pengalaman panjangnya ke panggung politik nasional.

Mungkin karena itu pula, perjumpaan singkat di siang hari tersebut terasa lebih dari sekadar sebuah kunjungan.

Ada cerita panjang tentang NTT di balik sosok yang duduk tenang menerima kami itu. Cerita tentang pemerintahan, politik, kekuasaan, pengabdian, dan perjalanan panjang seorang anak daerah.!!!

Cukup dulu eeeee…..

By admin