KUPANG, FORTITERNEWS.COM — Pembinaan atlet Shorinji Kempo Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai diarahkan pada target prestasi yang lebih besar. Tidak hanya membidik medali pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII 2028, NTT juga menyiapkan atlet untuk bersaing dalam World Taikai atau Kejuaraan Dunia Shorinji Kempo di Nagoya, Jepang, pada 2027.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah mendatangkan pelatih asal Jepang untuk memperkuat proses pembinaan atlet di daerah ini. Pelatih tersebut nantinya akan bekerja bersama tim pelatih Indonesia dan NTT guna meningkatkan kemampuan teknis serta memperkenalkan perkembangan terbaru Shorinji Kempo.
Program tersebut disiapkan Julie Sutrisno Laiskodat, anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem, yang akan dilantik sebagai Ketua Umum Persaudaraan Shorinji Kempo Indonesia (PERKEMI) NTT. Pelantikan dijadwalkan berlangsung di GOR Oepoi, Kupang, Minggu (1/11/2026), oleh Ketua Umum Pengurus Besar (PB) PERKEMI.
Pelantikan itu bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) PERKEMI NTT ke-48. Dalam kesempatan yang sama, Pasukan 100 PERKEMI NTT juga akan dilantik.
Di sela-sela persiapan pelantikan, Julie mengatakan, mendatangkan pelatih dari Jepang merupakan bagian dari langkah strategis untuk mempersiapkan atlet menghadapi persaingan internasional maupun nasional.
Menurut dia, target menuju World Taikai 2027 dan PON XXII 2028 tidak cukup hanya dengan mengandalkan semangat atlet. Dibutuhkan perencanaan matang, pelaksanaan program yang terukur, serta pengawalan pembinaan secara berkelanjutan.
Julie menyadari, upaya tersebut membutuhkan biaya dan keberanian mengambil keputusan. Namun, ia menilai investasi untuk meningkatkan kualitas atlet merupakan bagian dari tanggung jawab menjaga kehormatan olahraga NTT.
“Target besar di PON 2028 dan persaingan antarprovinsi juga begitu ketat, maka langkah berani ini harus saya ambil. Saya tahu risiko juga besar, terutama biaya. Namun, harga diri, martabat NTT dan nama NTT jauh lebih mahal dari semua yang kita akan buat. Karena itu saya putuskan harus dilaksanakan,” kata Julie.
Investasi sumber daya manusia
Bagi Julie, pembinaan Shorinji Kempo tidak semata-mata berorientasi pada perolehan medali. Lebih dari itu, organisasi olahraga tersebut memiliki ruang strategis untuk membangun kualitas sumber daya manusia, terutama generasi muda NTT.
Anggota DPR RI dari daerah pemilihan NTT I yang meliputi Flores, Alor, dan Lembata itu menilai NTT memiliki potensi besar yang belum seluruhnya dikelola secara optimal. Potensi tersebut, menurut dia, membutuhkan pengelolaan yang baik, benar, dan serius.
PERKEMI menjadi salah satu wadah untuk mengembangkan potensi itu melalui pembinaan sejak usia anak-anak, remaja, hingga pemuda.
Julie melihat generasi muda yang saat ini ditempa melalui latihan Shorinji Kempo sebagai kekuatan penting bagi masa depan NTT. Jika dibina secara konsisten, mereka dapat menjadi modal sumber daya manusia daerah dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.
Karena itu, ia menginginkan pembinaan atlet dilakukan secara serius dan tidak bersifat sesaat, terutama menjelang dua agenda besar, yakni Kejuaraan Dunia di Jepang pada 2027 dan PON XXII pada 2028.
Tantangan menuju PON 2028 juga dinilai tidak ringan. Sebagai tuan rumah, NTT tidak hanya dituntut menyukseskan penyelenggaraan, tetapi juga harus mampu menunjukkan daya saing melalui prestasi atlet di arena pertandingan.
Julie berharap seluruh masyarakat NTT memberikan dukungan terhadap perjuangan para kenshi atau atlet Shorinji Kempo agar mampu mengharumkan nama daerah di tingkat nasional maupun internasional.
“Kita semua inginkan kita harus juara di Kejuaraan Dunia dan di PON XXII 2028. Dengan tekad: BERSAUDARA, BERSATU, BERPRESTASI, saya yakin kita akan sukses,” ujarnya.
Disiplin dan karakter kenshi
Di balik target prestasi tersebut, Julie mengaku memiliki kebanggaan tersendiri terhadap para kenshi PERKEMI NTT. Ia menilai para atlet tidak hanya memiliki kemampuan bertanding, tetapi juga ditempa melalui proses pendidikan karakter.
Menurut Julie, terdapat tiga karakter utama yang menjadi kekuatan PERKEMI NTT, yakni disiplin, kerja keras, dan pendidikan untuk selalu mengandalkan Tuhan.
Ketiga nilai tersebut, menurut dia, harus menjadi fondasi dalam membangun organisasi sekaligus mempersiapkan atlet menghadapi kompetisi dengan tingkat persaingan yang semakin tinggi.
Peringatan HUT ke-48 PERKEMI NTT pun diharapkan menjadi momentum memperkuat persaudaraan, konsolidasi organisasi, dan pembenahan sistem pembinaan atlet.
Dengan kepemimpinan baru dan rencana mendatangkan pelatih dari Jepang, PERKEMI NTT dihadapkan pada pekerjaan besar: menerjemahkan target juara menjadi program pembinaan yang terukur, berkelanjutan, dan menghasilkan atlet berprestasi.
Sebab, reputasi olahraga sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh besarnya target yang dicanangkan, tetapi juga oleh konsistensi pembinaan dan hasil nyata di arena pertandingan.
//Hermen jawa